Tuesday, 6 March 2018

Things that are forbidden during childbirth


Things that are forbidden during childbirth

The law-related laws of women who are menstruating are the same as those of menstruating women. That is related to all cases that are forbidden and aborted for him. We are not aware of any disputes over this matter.

Postpartum women are the same as menstruating women. Because the actual menstruation of the legal status equal to women who are puerper. That is the view expressed by Shafi'i madzab. They say "All things that are forbidden for women who are menstruating, also forbidden for women who puerperium". While Maliki madzab said, "All cases that are forbidden for women who are menstruating are also prohibited for women who puerperium."

The following cases are not allowed during the puzzle, among others:

1. Read, touch, and bring the Qur'an and dhikr to God
According to Jumhur Furaka, postpartum women are not allowed to read Al Quran as a prohibition for women menstruating. However, Maliki's female madhhab is allowed to read it, because they allow it for women who are menstruating. Because in fact the laws apply to women who are childbirth equal to the laws of women who menstruate. Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah said, "reciting the Qur'an for a puerile woman, if not feared to forget it, then she is allowed to read it according to one of the scholars opinion." We have mentioned madzab zairi allow for women who menstruate to recite Al Quran, because in fact they do not require sanctity for people who read the Qur'an, women who are childbirth are the same as menstruating women so according to them, women are allowed to read Al Quran

2. Masuk Masjid dan thawaf di Baitullah
Wanita yang nifas tidak diperbolehkan masuk masjid namun dia dperbolehkan melintasi bila sesuatu ada bahaya yang mengharuskannya  mencari perlindungan didalam masjid. Disamping itu, dia tidak diperbolehkan melakukan thawaf di Baitullah atau Ka'bah Al Mussarrafah.

3. Menyetubuhi wanita yang telah nifas sebelum dia mandi dan sesudahnya
Seorang suami diharamkan untuk menyetubuhi istrinya selama dia masih nifas. Apabila darah nifas seorang wanita telah terhenti, maka dia wajib mandi, sesuai dengan kesepakatan ulama umat ini sehingga wanita itu menjadi suci dari nifasnya. Setelah itu, suaminya diperbolehkan untuk menyetubuhinya. adapun hukum menyetubuhinya sebelum ia mandi dan setelah darah nifasnya terhenti adalah tidak boleh, sebagaimana larangan terhadap wanita yang haid.

Kalau darah nfasnya telah terhenti, lalu dia mandi sebelum mencapai empat puluh hari sejak keluarnya darah nifas, maka sebaiknya suaminya tidak mendekatinya terlebih dahulu sebelum tercapainya masa empat puluh hari. Karena dikhawatirkan darahnya akan keluar lagi  setelah melakukan persetubuhan, sehingga ia dianggap menyetubuhi istrinya yang sedang nifas.

Jika darah nifas telah terhenti, kemudian tidak menemukan air untuk mandi, atau khawatir akan terkena bahaya bila mempergunakan air akan menjadi sakit, atau karena cuaca yang sangat dingin, maka dia diperolehkan melakukan tayamum dan bersuci dengannya. Setelah itu, suaminya diperbolehkan menyetubuhinya.

No comments:

Post a Comment

Required bath cases

If yesterday we already know baths are surrendered surely we must know also what things we need to know about bathing, among others: a....